IBUKU SUDAH KEMBALI
Tidak menunggu lama lagi, Ayah langsung memaksaku untuk
ikut bersamanya pergi ke Kota Solo. Di atas kapal yang sedang menuju pulau
Jawa, aku berdiri di pinggir kapal sembari memandang birunya laut dan langit, merasakan sejuknya
angin laut. Tiba-tiba ayah datang dari belakang dan membawakanku soda kaleng
dan menawarkannya padaku.
“ Maafkan ayah. Ayah tahu kamu sangat menyayanginya,
tapi...”
“ Cukup yah! “, aku yang sedang kesal memotong pembicaraan
ayah.
“ Tidak perlu bercerita tentang itu! Semua ini salah
ayah!”
Aku diam sejenak dan memutar posisi tubuhku membelakangi
ayah.
“ Kalau saja ayah tidak pernah melakukan hal ini, ibu
pasti tidak akan meninggalkanku.” Kataku sambil menggenggam kuat kaleng soda
yang terbuka belum sempat ku minum sedikit peot
di bagian tengahnya, membuangnya ke laut dan pergi meninggalkan ayah
sendirian.
Aku pergi ke toilet, mencuci tanganku yang terkena
tumpahan soda. Setelah kering, aku mengeluarkan foto ibu dari saku ku.
Tiba-tiba ada seorang wanita dan tidak sengaja melihat foto yang sedang ku
pegang.
“ Itu siapa? Ibu kamu,ya? “, seketika aku kaget dan
berbalik sembari menyembunyikan foto itu di belakang tubuhku. “Anda siapa?” ,
tanyaku penasaran. Wanita itu hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaanku.
Setelah itu, beliau justru berbalik tanya padaku.
“ Kamu sudah makan ? “
“ Belum.”
“ Kenapa?”
“ Tidak ada yang mau makan bersamaku.”
“ Kok kamu bisa
bilang begitu? “
“ Entahlah.”
“ Bagaimana kalau kamu makan bersamaku dan bercerita
tentang dirimu?“
“ Untuk apa? “
“ Aku ingin tahu lebih banyak tentang dirimu. Lagi pula,
aku juga belum makan dari pagi tadi. Ayolah, kamu mau ‘kan ? “
“ Mmm.... baiklah.”
Setelah aku menerima tawaran wanita paruh baya itu, kami
pun menuju kantin kapal dan memesan beberapa makanan. Setelah selesai makan,
beliau memberitahuku siapa dirinya.
“ Aku Boinem, sebenarnya aku tinggal di Solo. Tapi,
karena kemarin ditugaskan di Lampung, jadi aku tinggal di sana sementara.”
,jelasnya yang membuatku tidak malu untuk bertanya padanya.
Kami pun berbincang-bincang sampai matahari
menyembunyikan sinarnya di ufuk barat. Sudah puas aku ngobrol dengan Bu Boinem, aku kembali bersama ayah. Ayah melihatku
dengan tatapan curiga, mungkin ayah berfikir kalau aku menyembunyikan sesuatu
darinya. Tapi, aku tak memperdulikannya. Aku langsung mengambil selimut dan
tidur di lantai yang hanya beralaskan tikar.
Tiba-tiba aku terbangun dari tidur, dan aku merasa ingin
pergi ke toilet. Aku pergi melewati beberapa kamar, namun aku seperti melihat
ada wanita mirip dengan Bu Boinem. Sekali lagi aku memperjelas penglihatanku
dengan mengucek mataku. Benar saja,
wanita itu adalah Bu Boinem, tapi apa yang lakukan larut malam begini.
“ Bu Boinem, sedang a...”
“ Ssst... tolong jangan berisik dik. Sepertinya ada yang
sedang mencuri. Ibu akan mencoba untuk menangkapnya. “ , kata Bu Boinem agak
berbisik. Beliau mengeluarkan pistol yang ada di pinggangnya.
“ Jangan bergerak!” , teriak Bu Boinem sambil mengarahkan
pistol. Aku segera melihat siapa sebenarnya pencuri itu.
“ Ayah ?!” , aku terkejut dan kaget begitu mengetahui
bahwa pencuri tersebut adalah ayahku sendiri.
“ Ayah ?! Kenapa ayah melakukan perbuatan seperti ini? Ku
kira ayah sudah berubah sejak ibu meninggal, tapi kenapa? Kenapa ayah berbuat
begini? “
“ Dia ayahmu? “ , tanya Bu Boinem. “ Tapi, maaf dik, dia
harus ditahan karena telah mencoba untuk mencuri.”
“ Ken, maafkan ayah. Ayah berbuat seperti ini karena
tidak tahan lagi dengan kondisi perekonomian kita. Ayah ingin membuatmu bahagia
dan berkehidupan cukup dengan cara apapun juga.”
“ Tapi bukan begini caranya yah! Padahal ayah sendiri yang melarangku untuk mencuri
karena haram, tapi kenapa ayah sendiri yang melakukannya!”
“ Putriku, maafkan ayah! Tolong maafkan ayah dan lepaskan
borgol ini dari ayah, agar ayah bisa sujud di kakimu, Ken!”
“ Maaf yah! Ken tidak suka punya ayah seorang pencuri.” ,
tegasku pada ayah dan membiarkan Bu Boinem membawanya ke ruang tahanan kapal.
Aku pun baru menyadari bahwa Bu Boinem adalah seorang polisi wanita yang selalu
siap dan pandai bergaul dengan siapa saja.
Matahari kembali menampakkan dirinya, bertepatan dengan
sampainya kami di Pulau Jawa. Seturunnya dari kapal, aku bertemu Bu Boinem di sebuah pelabuhan tempat
kapal berhenti.
“ Setelah ini, adik mau ke mana? “
“ Entahlah. Mungkin aku hanya menjadi pengemis saja.”
“ Bagaimana kalau Adik Ken ikut ibu ke Solo, dan tinggal
bersama ibu? “
“ Apa tidak merepotkan, Bu? “
“ Ibu tinggal sendiri kok.”
“ Baiklah. Tapi, sebelumnya terima kasih banyak ya, Bu?
Bu Boinem telah banyak membantuku.”
“ Sama-sama. Cepat angkat barang-barangmu dan masuklah ke
mobil ibu!“
Aku mengangguk dan segera menuruti perintahnya. Akhirnya,
kami tinggal bersama dan menganggap Bu Boinem seperti ibu kandungku sendiri.
Aku merasa ibuku sudah kembali dan selalu berada di sisiku setiap hari.
Cerpen Karya Nining
Wahyuni